
Ada pemandangan yang tidak biasa pada 3 hari ini saat melewati perempatan Jalan Pangeran Samudera-Jalan Lambung Mangkurat. Ternyata Banjarmasin sudah memiliki lampu lalu lintas digital yang selama ini hanya pernah gue liat di jalan protokol di ibukota Jakarta. Nangkring dengan manis berdampingan dengan lampu lalu lintas standar merah, kuning, hijau.
Mungkin banyak para pengendara senang dengan kehadiran lampu lalu lintas digital ini, tapi buat gue tidak. Tidak ada hal yang mendesak untuk segera memasang traffic light jenis. Apalagi ditempatkan di lokasi perempatan yang selama ini berarus lalu lintas lancar-lancar saja. Bukan ditempatkan di perempatan dimana sering terjadi pelanggaran lampu lalu lintas. Sampe saat ini memang Pemko Banjarmasin masih mengujicobakannya di satu titik perempatan. Akan tetapi, nantinya akan ada 3 titik perempatan lagi yang akan menggunakan sistem ini yaitu: Jalan Kolonel Sugiono-Jalan Pangeran Antasari, Jalan A. Yani-Jalan Tembus Pramuka, Jalan Belitung-Jalan S. Parman. Toh, kesemua titik perempatan itu sebenarnya sudah memiliki pos polisi lalu lintas. Berkat merekalah sebenarnya arus lalu lintas di lokasi-lokasi tersebut tetap lancar. Para pengendara lebih takut membuat pelanggaran di perempatan yang ada pos polisinya. Mungkin saja karna menghabiskan total 400 juta makanya takut ditempatkan di lokasi yang tidak ada pos polisinya. Ato bisa juga karena alasan klasik, supaya terlihat bagus klo ada tamu dari luar daerah datang ke Banjarmasin. Weleh-weleh.
Disamping itu, adanya lampu lalu lintas jenis ini, menunjukkan bahwa dengan jumlah kepemilikan bermotor yang terus meroket ngatur para pengendara di jalan raya di Indonesia untuk tertib itu susah banged. Banyak sekali pengendara motor yang sering nyelonong saat lampu merah. Hanya sekedar mengejar waktu beberapa menit. Mereka inilah yang mungkin ingin dididik untuk sedikit lebih bisa bersabar klo menunggu lampu hijau, dan semakin ngebut klo penunjuk waktu lampu hijau sudah ampir habis. Mendidik jadi pembalap kah? Semoga saja tidak. Gimana menurut kamu?
Jadi pertamax… 
Kalau menurut saya ide untuk menggunakan lampu lalu lintas itu cukup bagus, soalnya pengendara lebih bisa mengontrol diri dengan melihat berapa lama lampu akan berganti warna karena adanya bantuan counter.
Cuma masalahnya, di lokasi tempat saya (Makassar), saya menemukan counternya tidak sinkron (angkanya tidak pas), mungkin ada kesalahan setting kali ya. 
uhm… dukung aja lah bro…
asal gk lari dari aturan aja…

buang duit deh..la biar ada digital ttp aja gak sabar,sebenarnya cukup sediakan pos polisi saja di sekitar trafik laik,di jamin deh bakal tertib… 8)
Yaah gimana ya, abis untuk ngabisin bujet kali, btw yah, seperti yang aku ketahui di pemerintahan itu ngga punya timeline perencanaan yang betul deh, jadi mereka bingung, di kasi bujet untuk pembangunan tapi ga tau mau bangun apa.
Itu fakta yang terjadi sekarang…
Kenapa ?
Karna PNS yang masuk itu pake KKN, orang yang ga bisa apa apa… hiks.
parah amat…
kalau di Padang sih lampu lalu lintas kek gitu juga udah mulai dijumpai. Kayaknya yang membedakan dengan lampu lalu lintas biasa cuman angka nya doang deh. Ah… payah nih pemerintah
8)komentar dulu nah:
menurut ulun kada tapi panting jua tuh.
ulun ni rancak basapedaan ja dibanjar tuh,kd bisi sepeda motor pang. 
digital ya.. uhm, lebih bagus kalo yang ada hidden cam nya, yang bisa moto2 otomatis kalo ada pengguna lalu lintas yang “bandel”.
Tapi kayaknya masih lebih efektif kalo di tiap perempatan dipasangin pintu palang kayak di perlintasan kereta, dijamin ma’nyus efeknya, apalagi kalo pintu palangnya dipasangin setrum 
klo udah diuber waktu, rasanya ga ikhlas klo hrs rela ketigngalan 2detik saja krn lampu berubah jd merah :)
barang aja yang penting bila lampu kuning harus cepat agar tidak kena lampu merah. 
hmm, di kampung q “pekanbaru” juga dah dipasang yg gituan pake digital segala lg, wkt angka mendekati 0 (nol) yg bw sepeda motor dah mulai genjot gas masing .. bener ngajarin mereka jd pembalap, apakah polisi dah males berdiri ngawasi yah (tp kasihan jg sih liat polisi berdiri panas2 kena asap knalpot).
yah walaupun perubahan itu perlu, teknologi kan diciptakan untuk mempermudah seharusnya, ambil sisi positifnya aja 
perluuu
Gini lho. Tujuan positif dari countdown lampu digital itu juga untuk lingkungan. Jadi kita bisa tau lampu merahnya masih menyala lama atau tidak. Jadi ketika lampu merah masih lama sebaiknya kita matikan mesin kendaraan, jika kita memang perhati dengan lingkungan dan kesehatan diri sendiri serta orang lain. Karena mematikan mesin barang 1-2 menit sangat membantu mengurangi polusi udara. Coba bayangkan jika semua orang menerapkan itu pasti polusi akan berkurang drastis. Kebanyakan pasti ngomong lha orang lain gak ngapain aku seperti itu? Ya mulai dari diri sendiri. Kalau semua ngomong seperti itu bangsa ini tidak akan bisa berubah.
Selain itu count down itu berfungsi untuk mengingatkan agar pengendara hati-hati ketika lampu hijau menuju merah. Begitu pula saat lampu merah menuju hijau, pengendara harus siap-siap agar arus lalu lintas bisa segera berjalan. Kan sering kita lihat pengendara gelagapan ketika lampu merah menuju hijau.
Sebenarnya ini baru langkah paling sederhana yang diterapkan pemerintah kita. Kalo aku sendiri justru ingin seperti di Jepang. Ketika lampu merah, berbunyi titut..titut..titut.. itu tandanya pejalan kaki boleh menyeberang. Nah kan enak kalo ada suaranya juga. Jadi pengendara tidak perlu melihat lampu yang sulit terjangkau misalnya. Karena posisi lampunya tepat di atas kita dan matahari menyengat kan sulit banget lihatnya. Silau man 
perluuuu
serius tuh harganya 400juta???
gilaa…
kan standart indoensia sudah naik.. keamaan berkendaraan pun harus naik..
waktu itu lumayan membantu ngurangin angka kecelakaan..malah di jalan yang sepi itu orang malah sering kecelakaan 
apa ya?
gw bingung mo comment apa?
tapi, dari pada 400 jt di bikin buat gitu an, mending dananya di alihkan buat pendidikan ya? hueuhue…
ahh,bodo lah,smoga ad hikmahnya aja
Boleh2 aja, itu benernya buat motivasi pengguna jalan, biar agak sabaran :)
kalo di jakarta, ada tidak ada sepertinya tidak efek :D
lha di perempatan Tomang (Taman Anggrek) lampu baru menunjukan angak 14 (merah) udah nylonong semua. dah hebatnya, polisi yang jaga pun suruh suruh jalan.. gimana mo disiplin :D
mungkin faktor manusianya yg gak bisa diatur biar tertib…
Di beberapa lalin jogja, jg sdh pasang digital count time ini. jd bisa itung2 kapan ngegas, kapan lepas gas.
tapi yang namanya pembudayaan, perlu proses waktu. kita mulai dari diri sendiri dulu, ini lebih baik lagi.
Salam utk blogger kalsel. Ulun urang Banjar jua. 
mahal amat 400 juta. 
Beneran atau dengan macam2nya ???
izin minta gambar yaaa
@inas
boleh banged, buat dipajang dikamar ya?! 
[...] Banjarbaru sekarang tambah canggih… Lampu Merah(satu-satu)nya sekarang sudah dipasangi plang timer digital loh! Itu loh, yang kalau lampu merah atau lampu hijau, ada penghitung mundur yang memberitahukan [...]